Surat Cinta Bagian 3 dan 4

Bagian 3 : Email To Danu

Usai menekan bagian send di layar komputernya, Amex terdiam. Cukup lama ia merenung. Tatapan matanya menerawang menembus kaca Gedung Summitmas, tempat sehari-hari ia menghabisikan waktunya bekerja di salah satu perusahaan beken di tanah air.

Kira-kira sepeminuman teh,  Amex tidak mampu menahan rasa pedihnya. Pria yang terkenal memiliki banyak “sahabat” ini akhirnya meneteskan air mata. Rasa sakit dibakar cemburu akhirnya tak tertahankan.

Sambil terus menerawang, tanpa sadar, tangan kirinya meremas-remas kertas laporan pajak yang seharusnya dikerjakannya. Padahal data laporan tersebut sangat penting. Bos besar Amex, tengah menunggu laporan pajak tersebut selesai usai jam makan siang.
Tapi apa daya, kekuatan cinta memang dahsyat. Entah itu pada saat berbunga-bunga ataupun saat perih seperti yang dialami lelaki asal Sumatera Utara ini.

“More good sick tooth, then sick heart this, let’s don’t’ why……(lebih baik sakit gigi, daripada sakit hati ini….biar tak mengapa…)

Satu bait lagu dangdut lawas kegemaran Amex meluncur perlahan dari mulutnya. Tentunya setelah dialihbahasakan ke Bahasa Inggris. Sejak berhubungan dengan Lepa, Amex memang sangat giat belajar bahasa ibunya David Beckham ini.

Cuma sesaat. Kemudian diam kembali datang.

Pikiran Amex melayang. Bergerak liar menembus batas-batas waktu. Ia teringat kembali saat pertemuan pertama dengan Lepa. Bagaimana Lepa begitu terkesima dan tersentuh oleh keramahan khas Indonesia yang ditunjukkan Amex.

Seulas senyum tersungging dari bibir Amex. Teringat betapa ia berhasil memperdaya Lepa sehingga jatuh hati padanya. Modalnya cuma senyum ramah dan hape Esia yang baru diisi pulsa. Ya, saat menebar perangkap kepada Lepa, hape Esia itu sungguh berjasa. Bermodal hape Esia tersebut, Amex dengan leluasa menelepon temannya Israr untuk bantuan menerjemahkan beberapa kata rayuan ke dalam bahasa Inggris yang baik.

Israr, teman satu kos Amex yang terkenal pintar, baik dan tak segan menolong orang itu cukup membantu Amex dalam pedekate lintas budaya tersebut. Ia tidak meminta kompensasi apapun. Sebuah ucapan terima kasih dari Amex cukup untuknya. Amex Cuma bilang, “Two thumbs up, Bang.” Itu sudah lebih dari cukup bagi Israr.

Teringat momen-momen romantis yang dilewatinya bersama Lepa membuat senyum di bibir Amex semakin mengembang. Semuanya tergambar jelas, mirip slide show saat ia melakukan presentasi di hadapan bos Jepang di kantornya tersebut.

Tapi tak lama. Kira-kira sehisapan sebatang rokok (yang tidak dibakar), senyum itu sirna, kembali berganti kedukaan. Sederet perlakuan buruk Lepa sangat menusuk hati Amex. Puncaknya saat ia melihat kekasih pujaan hatinya tersebut berjalan dengan lelaki lain.
Yang membuat hatinya semakin sakit adalah kenyataan bahwa Lepa berselingkuh dengan sahabat karibnya semasa SMA, Danu. Kiamat sughra, begitu Amex menggambarkan perasaan hatinya dengan dua kata, meminjam tausiyah para ustadz yang sering didengarkannya.

Sesaat kemudian, matanya tertuju ke layar computer di depannya. Tangan kanannya menekan mouse tepat di folder draft. Hanya beberapa detik, teks surat terpampang di layer tersebut. Surat ini sudah sejak dua hari lalu selesai dibuat tapi tak kunjung dikirimkan kepada sahabatnya, Danu.
Kali ini Amex sudah bulat. Surat ini akan dikirimkannya. Sebelumnya ia membaca kembali isi surat tersebut….

Danu my friend. (Danu sahabatku ). Mistake what that I make until you do like that. (Salah apa yang aku buat sehingga kau berbuat seperti itu) Cruel one river you destroy shock friend us with affair with my lover (Tega sekali kau merusak persahabatan kita dengan berselingkuh dengan kekasihku)
What no there is women different? (Apa tidak ada wanita lain?)
If not friend, maybe since yesterday-yesterday knife me already talk. (Kalau bukan sahabat, mungkin sejak kemarin-kemarin pisauku sudah berbicara) Counted since you read letter this, I declare shock friend us end. (Terhitung sejak kau baca surat ini aku nyatakan persahabatan kita berakhir). You not again friend me (Kamu bukan lagi sahabatku).

Amex
You will receive reply over shock make you (Kamu akan menerima balasan atas perbuatanmu)

Merasa tidak ada yang salah, Amex tanpa mengirimkan surat tersebut. Pada hitungan ketiga muncul kata sent di layer komputernya, tanda surat tersebut telah terkirim ke Danu…….

Bagian 4 : The Memory

Waktu terasa begitu lambat merayap, sehari selaksa setahun bagi Amex. Ingin rasanya mempercepat waktu agar dia tidak merasakan kepahitan hidupnya. Sore itu selepas pulang kantor di kawasan strategis itu, Amex memacu motornya melintasi lalulintas yang padat merayap, meliuk – liuk ditengah keramaian, melesat tanpa menghiraukan keadaan sekelilingnya.

Kendaraannya terus melaju kencang seolah angin yang memburu awan. Menuju sebuah tempat, tempat yang sangat bersejarah dan penuh kenangan. Sebuah tempat yang memiliki kenangan indah antara Lepa dan dirinya. Ancol… yach, tempat itu adalah Ancol.

Begitu banyak kenangan yang terukir dan terlewati ditempat itu. Ikrar yang diucapkan, Masa – masa romantis dan indah ketika menikmati terbenamnya matahari dan menyambut malam, candle light dinner dimalam valentine, kejutan – kecil yang membuat hari – harinya indah dari Lepa. Semuanya terjadi ditempat ini.

Menjelang matahari terbenam, Amex memasuki wilayah Ancol. Begitu memasuki wilayah tersebut, ada rasa aneh yang menjalar kedalam aliran darahnya.

Rasa yang memutarbalikkan dirinya kesatu masa yang indah. Masa dimana kehidupannya merupakan suatu gugusan bintang yang indah digelapnya malam, yang menerangi hari harinya dengan keberadaan Lepa disisinya.

Amex melangkah gontai ketepi pantai, memandangi riak – riak ombak kecil yang berlari – lari menerjang bibir pantai yang seolah – olah mengejar pasangannya yang lari dari pelukannya.

Amex kemudian duduk dan memandangi burung burung camar yang terbang berpasang – pasangan. Mendengarkan desir angin pantai yang menyejukkan kalbu. Pikirannya melambung jauh kemasa masa indahnya bersama Lepa.

Terekam dalam ingatan Amex ketika mereka berdua menghabiskan waktu sambil berenang di Ancol.

” Honey, Be careful…Don’t far far… later you sink ” ( sayang, hati hati… jangan jauh jauh…nanti kamu tenggelam )

” this fine fine Sweet heart…” ucap Lepa ( ini gpp sayang )

“ Ya, but I afraid you sink “ (iya, tapi aku takut kamu akan tenggelam ) balas amex, sambil berenang mendekati Lepa.

Ditangkap dan didekapnya Lepa. Lekat dipandangainya wajah Lepa seolah Amex tidak ingin melepaskan Lepa walau sedetikpun. Dibawah temaram sinar matahari diufuk barat, wajah Lepa semakin cantik dimata Amex. Dikecupnya kening Lepa dan dengan segenap hati amex mengatakan

” Honey, From deep ground liver me… I love you…” ( sayang, dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku cinta kamu )

Lepa membalas ucapan Amex dengan perkataan yang tidak kalah romantisnya

“ Sweet Heart, i don’t want spent time me without you… “ ( sayang, aku tidak ingin menghabiskan waktuku tanpamu )

Saat itu merupakan salah satu rentetan kejadian romantis yang pernah dilewati oleh Amex bersama Lepa. Satu moment yang tidak akan rela dihapus dari ingatannya walaupun nanti akan ada rencana pencucian otak dari pemerintah Jepang terhadap seluruh karyawan yang bekerja diperusahaan milik Negara itu guna mejamin rahasia perusahaan – perusahaan Jepang tersebut.

Cerita Sebelumnya…

One thought on “Surat Cinta Bagian 3 dan 4

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s