Hadiah untuk Sang Guru

Kita tentu masih ingat dengan lirik lagu berikut:

Hadiah buat guru

Hadiah buat guru

Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku
Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku
Sebagai prasasti terima kasihku
Tuk pengabdianmu

Engkau sabagai pelita dalam kegelapan
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan
Engkau patriot pahlawan bangsa
Tanpa tanda jasa

Yap benar, lagu itu berjudul “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” atau yang lebih akrab kita kenal dengan judul “Hymne Guru” yang diciptakan oleh seorang guru kesenian bernama Bapak Sartono. Mungkin kita tidak terlalu kenal dengan sosok beliau, sama seperti kita yang sering melupakan jasa guru-guru kita terdahulu.🙂
Tetapi tentu kita pernah merasakan saat – saat kita duduk di bangku sekolah, setiap tanggal 25 November selalu dilakukan upacara memperingati hari guru, dan lagu diatas selalu dinyanyikan oleh para siswa untuk mengenang dan menghormati pengabdian dan perjuangannya, baik sebagai guru maupun sebagai pendidik. Bagaimana perasaan anda ketika lagu terbut dinyanyikan, jujur saja saya pribadi selalu merasa merinding ketika mendengar lagu itu, bahkan pernah hampir menitikkan air mata.😀, mungkin salah satu alasannya karena lirik lagunya yang begitu menyentuh.
Tetapi bagaimana reaksi anda ketika lirik lagu tersebut diubah? Serius? Ya serius..:)
Perubahan lirik lagu tersebut diprakarsai oleh Persatuan Guru Republik Indonesia(PGRI) yang menganggap isi lirik lagu tersebut kurang bisa mewakili profesi guru pada saat ini, tentu saja tetap dengan persetujan Bapak Sartono sebagai pencipta lagu. Jika kita bahas lebih dalam ada beberapa alasan perubahan lirik ini diajukan, khususnya terkait dengan kesejahteraan guru yang saat ini dirasa sangat kurang.

Namun mungkin ada beberapa diantara kita tidak setuju dengan pendapat “Guru Sekarang Kurang Sejahtera”, dengan melihat bahwa sekarang Guru di Indonesia cukup sejahtera dalam hal gaji, masa dengan gaji minimal 1 Juta/bulan dibilang kurang sejahtera, bukankah sudah di atas upah UMP atau UMR? Anggapan itu tepat jika anda tujukan ke guru Negeri alias PNS, namun bukankah tidak semua guru adalah PNS, masih banyak guru honorer alias GTT(Guru Tidak Tetap), bagaimana nasib mereka? Kalau boleh saya katakan, MAAF “MENGENASKAN”.

Sebagai contoh saya ambil contoh kasus di Sekolah tempat saya bernaung saat ini, sebuah sekolah swasta yang bernaung di bawah Yayasan Angkatan Udara, jumlah Guru Tetap (PNS) hanya sekitar 25% sisanya sebanyak 75% adalah Guru Tidak Tetap (GTT), bagaimana perbandingan pendapatan mereka? Bagaikan bumi dan langit. Jika PNS sudah mendapat gaji tetap dari pemerintah (berkisar diatas 1juta/bulan) plus gaji dari Yayasan (Rp.10.000/jam pelajaran sebulan), maka lain halnya dengan para GTT, mereka hanya mendapat gaji dari Yayasan (Rp.10.000/jam pelajaran sebulan), mungkin kebanyakan anda akan salah ketika melakukan perhitungan gaji mereka, karena hitungannya bukan perjam tetapi perjam sebulan.

Saya berikan contoh perhitungannya, jika dalam seminggu seorang GTT mendapat jatah mengajar sebanyak 4 jam, maka yang mereka dapatkan setiap bulan adalah 4 jam x Rp.10.000=Rp.40.000. (Bukan Rp.10.000 x 4 jam x 4 minggu = Rp.160.000, seperti yang umumnya kita perhitungkan). Jadi kalau kita kalkulasikan sebenarnya pendapatan mereka bukan Rp.10.000/jam, tetapi Rp.2.500/jam. Nah pantaslah saya katakan mengenaskan, jika dalam sebulan seorang guru hanya berpenghasilan Rp.40.000 untuk bekerja selama 16 jam. Menurut Anda Pantas ??? Semoga amal ibadah dan wakaf ilmu mereka diganjar pahala amal jariyah dari Allah. Amin.

Ini menjadi renungan bersama kita. Itulah mengapa ketika ada lowongan PNS seperti sekarang, banyak para GTT berlomba dengan calon guru baru untuk mendapatkan kursi nyaman sebagai Guru PNS. Semoga kebijakan pemerintah segera berubah, dengan tidak melupakan nasib Guru Tidak Tetap. SEMOGA.

Kembali ke Hymne Guru diatas, untuk anda yang belum tahu, pada tahun ini telah diputuskan bahwa Hymne tersebut telah direvisi, tentunya oleh Bapak Sartono atas desakan dari PGRI, dan berikut lirik barunya:

Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku
Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku
Sebagai prasasti terima kasihku
Tuk pengabdianmu

Engkau sabagai pelita dalam kegelapan
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan
Engkau patriot pahlawan bangsa
Pembangun Insan Cendekia.

Bagaimana menurut anda? Masihkan bermakna lagu hymne guru dengan lirik diubah seperti diatas?🙂

Itulah tadi 2 hadiah untuk sang Guru tahun ini, semoga tahun depan, hadiahnya bisa lebih baik. SEMOGA

Akhir kata saya ucapkan SELAMAT HARI GURU. Semoga tetap ikhlas memberikan wakaf ilmu kepada para siswa, demi kemajuan anak bangsa. Maju terus GURU INDONESIA. SEMANGAT…🙂

5 thoughts on “Hadiah untuk Sang Guru

  1. Aslkmwrwb..
    met hari guru ya..
    sukses buat ka danu + para guru seluruh indonesia..
    chayoooo…..

    ternyata masih banyak kesenjangan diluar sana..
    jelas semua ini ga adil, bukankan guru pencetak pemimpin di masa depan…????
    anggota DPR aja dgn (Maaf) gaji yang diatas 10jt-an cuma cape ngukur jalan sampe keluar kota bahkan luar negeri yg ga ada gunanya dpt kompensasi yg tinggi dr negara,,,kok GURU ga Yaa???

    oia blognya kreatif..ditunggu tulisan2 terbarunya..
    salam manis,
    indah_btg

  2. Artikel yang bagus bang….menggungah dan sangat miris memang hati ini bang melihat keadaan guru-guru di Indonesia, bahkan ada guru yang sampai menjadi pemulung hanya untuk mencukupi kebutuhan hidupnya dan keluarganya. Semoga di kemudian hari kesejahteraan guru semakin sering diperhatikan oleh pemerintah kita, agar pendidikan kita bisa lebih maju dan mempu meningkatkan kualitas bangsa

  3. pak guru, sekarang guru PNS dah leha-leha katanya, karena selain dapat kenaikan dari sertifikasi juga gajinya naik, dan yg honorer di t4 ku sih dapat insentif 200 RB / bulan.. dan guru GTT perhitungan gajinya ya 10.000 / jam jadi klo ngajar 4 kali dalam seminggu, maka sebulan dia dapat = 10.000 x 4 x 4 = 160.000 begitu…

    tp kok ya aneh klo cuma 2.500 jam.. sungguh kejam itu kebijakan

  4. semoga guru gtt ikhlas dalam beramal.
    menyebarkan ilmu yang baik dan benar adalah ibadah.

    saya juga guru gtt pelajaran kkpi
    dipanggil pulang kampung oleh “…?…” daerah saya
    diproject, saya di gaji 4,1 jt / bulan
    bekerja dengan Auto CAD2007.
    di sekolah dibayar 689.000,00 / bulan
    Guru = profesi terabaikan secara finansial.
    diproject, tukang cuci mes saya saja dibayar 800.000,00 / bulan dengan tiga hari kerja per minggu.
    guru gtt 4 hari kerja per minggu.
    semoga guru tetap menjadi makhluk tuhan yang paling sabar

  5. saya juga seorang GTT, dan saya bisa merasakan apa yang dirasakan para GTT yang ada di Negara tercinta ini. Terkadang justru pekerjaan GTT lah yang lebih berat ketimbang PNS karena didukung juga faktor usia mereka yang sudah hampir terbenam. Saya juga pernah memiliki seorang teman GTT yang juga bernasib malang, dia berangkat paling pagi untuk membuka gerbang sekolah dan pulang paling akhir untuk menutup gerbang sekolah, dia mengajar layaknya guru yang lain, tetapi alangkah terkejutnya saya saat mengetahui bahwa saat itu setiap bulannya dia hanya menerima honor Rp. 50.000,-. sungguh malang nasib beliau.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s